Siang itu, Kota Huoling dipenuhi oleh keramaian yang tiada duanya. Langit biru cerah menyaksikan setiap gerakan para pedagang dan pembeli di pasar batu yang terkenal. Penduduk setempat berkumpul, berdesakan di antara kios-kios yang penuh dengan batu-batu yang berkilau. Dari yang kecil hingga yang besar, semuanya disusun dengan rapi, memudahkan para pembeli untuk memilih dengan cermat.

Keluarga Huo, sebagai bangsawan terhormat, dikenal luas karena kecerdikan mereka dalam berbisnis. Dengan kekayaan yang melimpah, mereka menguasai banyak lahan yang digunakan sebagai pasar untuk menjual barang-barang istimewa yang dibawa dari kota-kota lain. Namun, di balik kesuksesan tersebut, mereka juga terkenal karena sifat ambisius dan kesombongan yang menyertai nama mereka.

Lynx dan Jelita berjalan santai menyusuri pasar yang sibuk itu, mata mereka tertuju pada batu-batu yang dipajang dengan penuh keindahan. Setiap langkah mereka penuh perhatian, mencermati segala hal yang ada di sekitar.

"Xiao Ling, lihat apa yang dilakukan orang itu?" tanya Jelita, matanya mengarah pada seorang pria yang tampak sedang menyalurkan kekuatan Qi-nya ke sebuah batu besar di hadapannya.

"Dia mencoba merasakan kristal di dalam batu itu," jelas Lynx dengan tenang, matanya tetap memperhatikan sekeliling. "Kamu bisa lihat, sepertinya pria itu sudah berusaha sejak tadi, tapi tidak berhasil. Batu roh tidak bisa dideteksi dengan cara seperti itu," lanjutnya, menggelengkan kepala perlahan.

Yun Qing mengangguk, melihat ke arah pria itu sejenak. "Mungkin dia ingin mencobanya," katanya dengan senyum tipis.

"Kapan acara judi batu ini dimulai? aku penasaran seperti apa batu-batu yang sudah dibelah." kata Jelita dengan nada tidak sabar.

Tidak lama kemudian, seorang pria berusia empat puluhan berdiri tegak di atas panggung yang telah dipersiapkan untuk para tamu undangan dan anggota keluarga Huo. Dengan sikap penuh percaya diri, Huo Jian, calon penerus cabang keluarga Huo di Kota Huoling, membuka acara judi batu yang sudah dikenal luas. Tradisi ini selalu menarik perhatian penduduk setempat, dan hari itu tak berbeda.

"Dalam kesempatan ini, saya dengan bangga mempersembahkan kepada Anda semua batu roh yang berasal dari Gunung Fengming," ujar Huo Jian dengan suara yang menggema di seluruh area pasar. "Kami telah bersusah payah mendapatkan batu-batu ini, dan setiap batu akan dijual berdasarkan ukuran serta kualitasnya, yang telah dipisahkan dari bentuk aslinya. Saya harap Anda semua menikmati kesempatan langka ini untuk mendapatkan batu roh berkualitas tinggi."

Para hadirin menyambut pengumuman tersebut dengan antusias. Mata mereka berbinar penuh harapan dan kegembiraan, seakan kesempatan ini adalah kunci menuju keberuntungan besar. Lynx dan Yun Qing saling bertukar pandang, tertarik dengan kemungkinan apa yang mungkin mereka temui di antara batu-batu roh yang ditawarkan.

Sementara itu, Huo Jian melanjutkan pidatonya, menjelaskan lebih rinci tentang proses pemisahan dan penilaian batu, memastikan bahwa setiap pembeli memahami betapa berharganya setiap potongan yang mereka pilih.

Setelah sambutannya selesai, keramaian semakin terasa. Para penduduk mulai bergerak, berkeliling pasar dengan semangat yang membara, memilih batu-batu yang menarik minat mereka. Harga batu bervariasi—mulai dari beberapa koin perak untuk yang termurah, hingga ratusan koin emas untuk batu dengan kualitas yang sangat tinggi. Kehebohan meningkat ketika seseorang berhasil menemukan batu yang sangat berharga, yang bisa dijual kembali dengan harga berkali-kali lipat, atau bahkan ditukarkan dengan artefak, kristal spiritual, dan benda-benda langka lainnya.

Di tengah keramaian, seorang pria muda berseru dengan kegembiraan, "Lihat ini! Aku mendapatkannya hanya dengan sepuluh koin perak, dan sekarang tawaran sudah mencapai seratus koin emas!"

Temannya menepuk punggungnya dengan bangga, "Kau benar-benar beruntung! Dengan keuntungan sebesar ini, kau bisa menukarnya dengan artefak yang selalu kau inginkan."

Seorang pedagang yang berdiri di dekat mereka menambahkan dengan nada serius, "Ah, nasib memang bisa berubah dengan cepat di pasar ini. Siapa tahu, batu berikutnya yang kau pilih bisa jadi kristal spiritual yang sangat langka."

"Xiao Ling, apakah kamu tidak tertarik untuk mencoba membelinya juga? Siapa tahu kamu bisa mendapatkan batu kristal yang besar," kata Jelita dengan tatapan penuh harap, suaranya melunak meski matanya tetap waspada.

"Aku belum tertarik, selain itu aku tidak membutuhkannya, aku lebih suka melihat mereka memilih." jawab Lynx dengan nada santai, matanya tetap tenang dan tak terpengaruh dengan keramaian pasar.

"Tidak tertarik atau tidak punya uang? Pria miskin sepertimu takkan mampu membeli batu roh yang ada di sini," terdengar suara kasar dari belakang mereka. Tanpa mereka sadari, pemuda gemuk yang mereka kenal sebagai Huo Tao sudah mendekat. Senyum sinis terukir di wajahnya, seakan menantikan reaksi mereka.

Mata Huo Tao langsung tertuju pada Yun Qing, menyunggingkan senyum yang penuh niat buruk. "Ah, kita bertemu lagi, nona cantik. Sayang sekali pertemuan kita kemarin berakhir begitu saja. Tapi kali ini, aku akan pastikan segalanya berjalan lebih menyenangkan. Pasar ini milik keluargaku. Apa pun yang kau inginkan, aku akan belikan."

Jelita yang sudah kesal dengan sikap Huo Tao sejak pertemuan pertama, hanya meliriknya sejenak, lalu menarik tangan Lynx untuk pergi. Namun, sebelum mereka bisa melangkah lebih jauh, seorang pria, anak buah Huo Tao, tiba-tiba menghalangi jalan mereka.

Huo Tao pura-pura menegur anak buahnya, tapi suaranya tetap terdengar mengejek. "Apa yang kalian lakukan? Nona secantik ini tak seharusnya takut. Bukankah lebih menyenangkan pergi bersamaku daripada terus berada di samping pria itu?" Dia melirik Jelita dengan senyuman licik yang semakin memuakkan.

Jelita menatapnya dengan tajam, suaranya dipenuhi ketegasan. "Minggir, urusanku dengan siapa, itu bukan urusanmu."

Huo Tao tetap tersenyum, namun tatapannya semakin tajam, penuh dengan niat jahat yang berusaha disembunyikan di balik sikap ramahnya. "Oh, jangan seperti itu, nona. Aku hanya berniat baik. Kota ini penuh dengan peluang, dan aku bisa memberimu semua yang kau inginkan. Jauh lebih baik daripada kamu memilih berada di samping pria miskin itu," katanya dengan nada mengejek, matanya menatap Lynx dengan sinis.

"Betul sekali, nona. Banyak gadis yang sangat menginginkan bersama Tuan Huo Tao, tapi Tuan Muda lebih memilih nona untuk bersamanya," kata salah satu anak buah Huo Tao dengan nada penuh sanjungan.

Huo Tao tertawa bangga, senyum puas terukir di wajahnya. Dia merasa kemenangan semakin dekat, dan segala perkataan anak buahnya semakin memperkuat egonya.

Lynx tetap diam, tatapannya tak bergeming sedikit pun. Dia tahu percakapan ini tak akan membawa mereka ke mana-mana, dan tak ingin terlibat dalam permainan kata-kata yang sia-sia. Sikap tenangnya justru membuat Huo Tao semakin kesal.

"Bukankah dengan bersama tuan muda Huo, apapun yang dia inginkan bisa didapatkan." kata salah satu penduduk yang ingin menyenangkan hati Huo Tao.

"Andai saja aku memiliki anak perempuan." kata yang lainnya.

Jelita, yang sudah tak tahan dengan sikap Huo Tao, menarik Lynx sedikit lebih dekat ke dirinya, matanya menyala penuh kemarahan. "Sehebat apapun kamu, tetap tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Xiao Ling," katanya dengan suara yang semakin keras, menatapnya tajam.

Mendengar dirinya dibandingkan dengan pemuda miskin di depannya, Huo Tao merasa dipermalukan. Namun, dia berusaha menahan amarahnya, tertawa canggung. "Baiklah, baiklah, kamu bilang dia lebih baik dariku? Apakah dia punya kenalan atau kerabat yang berpengaruh? Apakah keluarganya dari bangsawan? Kalau dia memang lebih baik dariku, tentu dia bisa menunjukkannya kepada kita semua, bukankah demikian kawan-kawan?" Huo Tao tertawa lebar, merasa bisa membalas perlakuan yang dia terima. Dia yakin pemuda di depannya hanyalah orang kampung yang beruntung bisa berjalan bersama wanita cantik.

Para penduduk yang mendengarkan mulai memperhatikan percakapan itu. Beberapa dari mereka menatap Lynx dengan rasa penasaran, menunggu apakah ia akan memberikan tanggapan. Namun, Lynx tetap diam, seolah tidak terpengaruh dengan tantangan tersebut.

"Xiao Ling, Yun Qing, kalian disini? Akhirnya kita bertemu lagi."

Sebuah suara wanita yang dikenalnya tiba-tiba terdengar dari balik punggung Huo Tao, sosok wanita yang mereka kenal sebelumnya.

